Selasa, 20 Desember 2011

Useless Words : Teka-teki

Cinta itu... bagai teka-teki
Yang menyiratkan berbagai tanya
Dan sang pujangga yang bisa menyibaknya

Cinta itu... bagai teka-teki
Yang menyeruak dari tatapan mata
Dan dengan tulus, aku pun bisa merasakannya

Cinta itu... bagai teka-teki
Yang datang dengan berbagai kemungkinan
Dan pergi menyisakan keheranan

Cinta itu... bagai teka-teki
Yang menyimpan satu jawaban
Di dalam beribu pilihan

Cinta itu... bagai teka-teki
Yang tanpa ijin, menguasai jiwa dan raga
Dan tanpa permisi, menyerak dan menghancurkannya

Cinta itu... bagai teka-teki
Yang kadang bisa terjawab
Namun tak ada yang memuaskan

Cinta itu... bagai teka-teki
Yang selalu mengganggu kalbu
Dan dalam diam pun, ia mengusik

Cinta itu... adalah teka-teki.

Yang mungkin tidak tercipta untuk diselesaikan.

Tidak tercipta untuk diakhiri.
Tidak tercipta untuk dijawab.
Tidak tercipta untuk ditinggalkan.
Tidak tercipta untuk dilupakan.

Ia hanya ada...
Untuk menjadi sebuah teka-teki
yang hanya bisa dirasakan.


TANGERANG, 9 Desember 2011
23.00

Senin, 01 Agustus 2011

Let's Start Talking About LOVE! : SMP



Semua fase hidup... Yah, apapun itu... Pasti memerlukan yang namanya adaptasi. Apalagi, fase pendidikan!

Btw... ngomongin adaptasi pendidikan, pasti udah pada tau lah arah-arah post ini tuh ngomongin apaan.

Yep, betul. MOS. *ini adalah kata2 yg sering ada di novel-novel. Padahal belum ditebak, udah tau duluan jawabannya. Biasalah aku kan penulis yang tertunda~~

Oke, lanjut. Buat yang belum tau, MOS itu masa orientasi siswa, di mana kalian diperkenalkan sama sekolah kalian yang baru dengan dikerjain, dijailin, ato apalah, sesuai cara masing2 sekolah.

Nah, seperti biasa, remaja putri yang baru masuk SMP pasti berpikir gini, "Well, gua ga jelek-jelek amat. Asal gua baik+pinter mah entar juga eksis sendiri."
Begitupun dengan aku. My dream is to become a prinncess yg dikejar2 kakak kelas yg cakep. Standarlah, gak ada yang salah dengan keinginan macam itu.

Akan tetapi, semakin aku berpikir kalo aku udah eksis,
seperti itu pulalah ternyata aku tidak dikenal.
Ini semacam penyakit GR, di mana kita bisa loncat sesaat untuk setinggi-tingginya, namun tak berhasil meraih pegangan, sehingga kita jatuh lagi.
Keras dan sakit.

Well, begini ceritanya.
Waktu itu, di hari terakhir MOS, diadakanlah sebuah acara apresiasi seni.
Karena kelas aku memutuskan utk nyanyi, jadi aku yang main gitarnya. Waktu itu aku masih newbie juga sih. Kebetulan lagunya gampang, Geby yang Tinggal Kenangan.
Nah, di situ aku duet gitar sama ka Frans *bener gak yah namanya? Udah agak lupa*
 

Setelah selesai, aku digandrungin tuh sama kakak kelas yang cewe-cewe. Mereka pada minta foto bareng aku *serius loh, fotonya masih ada :P* trus bilang, "Ini nih adek kelas yg bisa ngalahin Frans! Malu dong Frans dikalahin sama adek kelas :P"
Trus aku langsung melambung deh. Astaga...


That was a perfect moment for a girl to begin her JUNIOR HIGH SCHOOL life <3

After that, beberapa hari setelah MOS usai, ada kakak kelas cewe yang nyamperin aku ke kelas, trus nanya nomor telepon aku, katanya mau minta ajarin gitar. Namanya ka Anna Christmas. *Ouoh my beloved sister, I miss you :)

Eits, inget, 'ka' bukan 'ko'. So it still does not prove that I exist.
Then... Long time after that... Aku ke sekolah, mau latihan drama untuk pensi.

Janjiannya sih di lapangan, tapi baru aku doang yang dateng. Di pojok sana, ada kakak2 kelas lagi nyanyi2 sambil bawa gitar. Eh ternyata ada ka Frans dan kakak2 cewe yang waktu itu minta fotbar.

Aku kan mau ke WC, eh trus keluar dari WC, ka Frans nyamperin aku, trus nanya, "Kamu ke sini ngapain? Kamu anak SD yah?"

Eish~~

Trus dia bilang lagi, "Ini SMP dek. SD-nya di sana *nunjuk ke arah SD Sanmar* " Trus kakak2 cewe yang ada di situ dateng trus bilang, "Eh, bukan. Ini mah anak kelas satu. Kamu di sini disuruh siapa? Ngapain?"

Aku jawab aja, "Latian drama buat pensi kak."

"Disuruh wali kelas?"

"Iya..." Dan usai senyum dan pamit, aku keluar dari wilayah itu dan duduk di warung, nunggu temen2.

Yeah, seperti yang aku bilang tadi, loncat itu pasti jatuh. Kecuali kita punya sayap yang kuat banget, yang sekalipun angin berhembus kencang, dia tidak akan rapuh...

Oh ya, satu cerita lagi. Jadi, waktu MOS, kan kelas 9D untuk yg cowok disuruh pake rambut2an warna hitam yang dibuat dari tali rafia. Nah ada salah satu cowo yang pakenya warna kuning *sungguh ajaib ini anak Oke, panggil saja dia bulebuluk.

Mukanya itu cakep, yah biasalah tipikal org bule. Nah, w langsung berpikir, "Wah. Kebetulan si ******* sekelas nih ama dia. Pasti dia lgsg naksir." Si ******* itu adl temen SD gue yg beautiful and popular. Kinda eksis lah.

Nah, waktu aku tanya sama dia, "Emang u suka juga ama bulebuluk?"

Dan bisa ditebak, jawabannya, "Iya, kok u tau?"

SEE? Orang cantik itu gampang ditebak, man! Tapi yg aku heran adalah, kenapa mereka lebih mudah eksis? Padahal mereka gak melakukan apa2 setidaknya untuk membuat diri mereka dimintai nomor telepon sama kakak kelas.

Kenapa? Kenapaaa? Tentu krn mereka cantik. #galau

Nah. Satu cerita tadi berpengaruh pada ceritaku yg ini :

Jadi aku yah, biasalah, ada suka2 gitu sama senior. Dia jago main gitar. Panggil aja dia Mr. Invicible karena dia jarang banget kelihatan, hanya pd waktu2 tertentu dia keluar kelas. Mr. Invicible ini katanya sih pendiam tapi aslinya gokil. Yah cool outside crazy inside gitu *tipe aku nih ahaha XD

Aku kira dia itu orang yang yah, suka sama cewe berdasarkan bagaimana dia, bukan seperti apa wajahnya. Trus jadilah aku suka ngeliatin dari jauh, stalking on his facebook, galau setiap dia nulis status tentang cinta...

Dan saat aku tahu kalau dia punya cewe cantik yang eksis di sekolah, yang teramat sangat cantik...

Aku broken total.

Aku kembali jadi gadis remaja yang tidak suka bergaul terlalu banyak dan hanya mencari teman di perpustakaan.

Well, it's tiring. Bagaimana melihat seorang cewe yang sangat cantik - namun tidak melakukan apapun untuk dimintai nomor telepon - mengalahkan perasaanmu yang sangat besar untuk seseorang.

Tapi guys, untung aku punya seorang teman yang sangat bijak. Ia berkata, "Siapa bilang mereka ga berjuang? Mereka juga berjuang menjaga kecantikan mereka. Mereka berjuang pedekate sama cowo mereka. Mereka berjuang menjaga kebaikan supaya ga banyak orang yang sebel sama mereka. Semua orang berjuang. Hanya lo yang diem aja, melihat cowo idaman lo dari jauh, tanpa berani berbuat apa2. Itu bukan perjuangan. Itu cuma penantian kosong."

My eyes were opened and I realize that... Every girl could be beautiful if she want. And I will struggle like what my friend said.

But yeah, life isn't that easy.

Still... I can't get what I want, and at the end, I give him up. 

 
Thanks and keep on reading. gals!


 "di mana kita bisa loncat sesaat untuk setinggi-tingginya, namun tak berhasil meraih pegangan, sehingga kita jatuh lagi."

Selasa, 07 Desember 2010

Let's Start Talking About LIFE! : SMP

Aku punya sebuah kisah yang lagi-lagi amat sangat bener-bener drama abis banget sekali.
Ini kisah tentang hubunganku dengan guruku yang mun*j*b itu. Bukan, bukan kayak yang di berita - berita tentang guru kekerasan sama muridnya gituh, bukan.
Jadi ceritanya, ada pelajaran BP di sekolah. Aku yang memang anak baik-baik ini sangat tidak rela, tidak terima, dan tidak mau kami para murid dilecehkan secara moral. Aku tidak suka dengan cara guru itu mengajar. Setiap ada yang mengobrol, beliau langsung maki-maki tuh anak. Tapi, giliran beliau ngomongin orang, beliau sama sekali gak mau dikritik. My God, sumpah, itu guru ngenekin abis. Semua aib muridnya dibuka depan umum. Parah kan? Temen2 juga pada gak suka sama guru ini, semua benci.

Waktu dia lagi nerangin soal STAN gitu gitulah pokoknya, aku kan ngobrol. Trus beliau bilang, "Wah, si *brengky1* pinter yah!" en "Wah! Si *temennya brengky1* anak teladan yah!"
(ceritanya, brengky1 ini rivalku dalam nilai dan temennya brengky1 ini mungkin sudah seperti musuh bebuyutan ya.
Rasanya, di dadaku tuh ada badai dahsyat gitu. Biasalah, kalau jaman sekarang bahasanya enpi.

Gak terima, aku ngobrol aja *oke ini emang salah. Tapi topik obrolannya itu juga tentang gimana bobroknya sekolah-sekolah yang cuman ngandelin duit doang, dan sebagainya. See? Biasa aja kan topiknya?
Tapi, beliau malah manggil aku, "Heh! Kamu namanya siapa? Ngobrol terus dari tadi!"
Aku dengan pede menjawab, "Gres, Pak."
Tapi, beliau malah bilang, "Kamu pinter-pinter jangan sombong yah! Kalo pinter tapi kelakuan kayak kamu, gak ada gunanya tahu gak!"
Langsung amarahku naik ke ubun-ubun. Badai di dadaku jadi jauuuh lebih besar, lebih hebat dari sebelumnya. Serius. Dan ini yang ngebuat aku pengen banget ngejawab beliau waktu beliau bilang, "Kamu kalo mau ngomong, sini ke depan!"

Dan emang itu yang aku lakuin, maju ke depan setelah selesai pelajaran. Aku angkat tangan, dan langsung maju ke depan kelas.

Aku sempet tahan air mata juga, karena memang waktu itu dada aku kayak gunung mau meletus tapi gak keluar-keluar laharnya. Akhirnya nyentek di dada...
Dan finally, meledak juga di depan. Aku nangis dan aku bilang gini di depan kelas, "Pak, sebelumnya saya minta maaf kalau saya tidak menghargai Bapak. Tapi, saya gak setuju sama sikap Bapak yang terlalu suka membandingkan orang, dan kelewatan ngomongin orang. Saya mau, kita fair, kita buat kesepakatan. Kita janji kita gak ngobrol lagi, tapi Bapak juga harus terima Bapak gak bisa ngomongin orang lagi, terlebih membandingkan mereka (sambil nunjuk tuh 2 manusia) sama saya padahal Bapak sama sekali gak tahu benar siapa saya dan mereka. Makasih."

Aku langsung disambut tepuk tangan anak-anak lain dan mereka mengelu-elukan aku. Terutama Agnes, Iven, Mega, Biga, Vellya, en temen-temen lain yang udah mendukung aku. Sampe ada yang langsung nyodorin tisu. Vellya bikinin gambar malaikat manga yang katanya gambar aku waktu lagi di depan. Aku terharu banget sangat. Dahsyat!

Yeah, beginilah aku. Lebay dan tukang galau. Sering nangis saat marah, dan marah2 di akhir tangisan. But, hey, kalau tangisan lebay aku bisa merubah keadaan jadi lebih baik, kenapa engga?

Buat kedua manusia yang tadi kusebutin di atas, sori agak menyinggung kalian, tapi aku bener-bener gak bermaksud mendiskreditkan kalian.

Saran ku buat kalian semua, jangan pernah menyerah atas perjuangan kalian sesedikit apapun kalian berjuang. Karena kalau kalian menyerah, semua yang pernah kalian perjuangkan akan sia-sia, dan kemungkinannya 0% untuk kalian bisa sampai titik akhir. Untuk apa memulai kalau kita tidak berniat mengakhiri?

Thanks and keep on reading, gals!

"Aku langsung disambut tepuk tangan anak-anak lain dan mereka mengelu-elukan aku."

Let's Start Talking About LOVE! : SMP

Aku punya satu cerita yang bener-bener amat sangat drama sinetron abis banget sekali.
Jadi ceritanya, aku baru pulang nih dari suatu tempat.
Nah, di jalan modernland atau banjar, aku lupa, aku jalan gitu...
Awalnya, biar gak dianggep 4l4y, aku stei kulkas aja.
Aku jalan, jalan, en jalan...

Eh, ternyata, ada anjing gong gang gong gong di pager sebelah rumah yang lagi aku lewatin.

Aku kan takut banget tuh ya, sama anjing, jadi aku kaget. Shocked.

Aku lempar tas, tapi kaki gak bisa gerak saking shocked-nya. Wow!

Eh, tuh anjing hampir loncat. Aku kontan -kayak duit, bayar kontan- kaget.

Tapi, bagian serunya adalah, si pemilik rumah langsung keluar narik anjingnya.

You know what? Si pemilik rumah (Sipemru) itu ternyata cuuakep banget -pake 'u' 2-.

Dan saat itu juga, aku terhenyak, tersungkur di depan butanya cinta.
 

Dia senyum sama aku, tertawa, dan menarik anjingnya masuk ke dalam.
Bayangin, sinetron abis kan? Aaaargh!

Eh, waktu lagi moment terindah di sinetron berjudul "CINTA TUMBUH GARA-GARA ANJING" ini, ada cewek lewat terus caper-caper gituh. Dasar monyong tuh orang. Luckily, Sipemru itu tetep ajah ketawa. Trik TePe tuh cewek gatot deh, hohoho.

Sejak saat itu, aku suka senyum-senyum sendiri. Belajar gak keruan. Tidur juga ga merem. Hohoho~

Sumpah. Waktu itu aku bener-bener kayak orang gila. Gilaaaa banget. Hidup tuh kayak gak ada beban sama sekali.
Dan aku, yang tadinya takut banget banget sama anjing, jadi senyum-senyum sendiri kalo liat anjing.

Tapi, tepat 2 hari setelahnya, seorang informan, eh bukan ding, inforwoman, yang adalah temanku juga, bilang kalo dia udah punya cewek dan mereka udah pacaran laammaaa banget. Lama banget. Dan itu, menghancurkan hatiku lagi, untuk kesekian kalinya.

Saranku buat kalian yang lagi dimabuk asmara, JANGAN OPTIMIS SEPERTI ANAK KECIL TANPA DIIMBANGI TANGGUNG JAWAB SEORANG DEWASA. Karena akhirnya, kalian akan hancur sendiri.


Thanks and keep on reading, gals!

"Jangan optimis seperti anak kecil tanpa diimbangi tanggung jawab seorang dewasa"

Let's Start Talking About LOVE! : SD

Dag, dig, dug.
Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan detak jantungku yang kian melonjak seiring kakiku melangkah ke ruang kelas baruku.

SD, singkatan dari Sekolah Dasar (yaiyalah) yang setiap kali kuucapkan, selalu saja menimbulkan perasaan takut dan gundah.
Apa nanti teman-teman akan menerimaku? Apa prestasiku akan beranjak baik? Apa guruku nanti bisa merangkap sebagai orang tuaku juga nenekku? (lohh)

Tapi, ada satu pertanyaan yang sudah berurat nadi di pikiranku, "Apakah perjalanan cintaku akan berjalan mulus?"

Mungkin pertanyaan itu tak pantas diucapkan oleh seorang anak kecil sepertiku, yang notabene baru lulus TK. Jangan heran, karena aku memang anak abnormal (dan aku bangga sekali hehe).


1. Kemoceng
Saat aku masuk kelas 1B, aku langsung menatap mata seorang anak lelaki yang sudah sering kali kulihat, tapi setiap kali menatap matanya, tetap saja ada satu kata yang menghambat langkah kakiku mendekatinya.

TEMAN. Kami hanya teman, dan itu tak bisa dipungkiri, karena ibunya juga berteman dengan mamaku.

Dia adalah Kemoceng, yang entah kenapa, langsung tersenyum sumringah saat aku berjalan pelan menghampirinya. Hampir aku tersandung kaki meja. Wow! Amazing! Baru kali ini aku melihatnya tersenyum sesenang itu padaku. Mungkin karena biasanya ia di bawah tekanan dari teman-teman genit kami waktu di TK.

Senyum itu membawa harapan bagiku, melengkapi satu kata itu dengan kata lainnya, menjadi frase yang sangat indah. TEMAN BAIK. Aku akan menunggu samapi frase itu berubah jadi kata yang tak kalah indahnya, SAHABAT.

2. Sapu Ijuk
Amazing. Saat aku naik ke kelas 3, aku kembali ke jemputanku yang lama, kepunyaan Pak Suti. Tadinya, aku sedikit kesel sama si supir, Pak Suti itu. Di posting lain, akan kuceritakan supir satu ini.

Tak bisa digambarkan perasaanku, saat aku naik jemputan itu, aku langsung melihat sesosok anak lelaki yang duduk paling dekat dengan pintu. Dia melirik sedikit, tanpa ekspresi, tapi yang bisa kutangkap saat itu hanyalah wajahnya yang, ehm, cuakep. Ada 'u'-nya, jangan lupa.

Ternyata dia orang Batak, sama denganku. Hehe. Apalagi umurnya 2 tahun lebih tua dariku, kelas 4.
Kenapa 2 tahun lebih tua? Heh, enak aja, bukan karena aku gak bisa ngitung. Umurku memang lebih muda 1 tahun dari teman sekelasku karena aku masuk sekolah terlalu cepat 1 tahun.

Belum selesai cerita. Waktu itu, aku sedang menggambar di kelas 4C, karena ruang kelas kami sedang dibersihkan, jadi kami harus pindah ke kelas lain yang kosong. Dan jodohnya, kelas 4C itu ternyata kelasnya. Tapi, ia masih olahraga. Setengah jam berlalu, aku masih menggambar planet-planet, saat derap kaki melangkah ke ruangan itu, menandakan mereka sudah kembali. Saat itu, kulihat dia mengambil botol air minum di 2 kursi di depanku, dan dengan senyum lebarnya, dia melambai, sambil berkata, "Hei. Ketemu lagi!"

God, sumpah, itu momen drama abis.

Gak tanggung-tanggung, saat aku sedang mengejek teman sejemputanku yang sekarang kelas 7 di SMP-ku, Adolfo, aku langsung digebrak habis-habisan oleh manusia cuakep pake'u' yang sedang menjelma jadi setan alas.
"Woy, lu ngapain temen gua, hah?"
"Emang dia temen lu? Orang dia temen gua kok!"
"Temen lu berarti temen gua juga!"
Hey. Ada yang bisa bantu aku mencerna kalimat ini?
Itu artinya ada 2 :
1. Hanya sekedar memberi proove atas point yang mengatakan bahwa Adolfo adalah temannya
atau
2. Sinyal-sinyal hati merah jambu. "Temen lu berarti temen gua juga" itu kan kalimat buat orang pacaran yang lagi berantem? Astaga. Amazing.

Satu kejadian lagi. Waktu itu, aku sedang diejek oleh abangku yang emang manusia rese, kita singkat mase, yang sumpah nyolot abis. Tapi baik. Tapi enggak. Tapi baik. Tapi kadang-kadang. Halah~

Nah, katanya, "Bulu dede panjang-panjang amat sih, hah?" (kan, rese banget kan)
Langsung aku merapikan bulu-buluku seraya bergaya iklan sabun mandi.
Nah, ini dia momen yang film abis, si cuakep pake 'u' berkata, "Gua suka tuh, kalo bulunya panjang terus dilurusin." kata-kata ini...
My God, aku jadi cinta mati sama kedelapan kata itu. (Saat ini aku yakin kamu lagi ngitung apa bener kata-katanya ada 8, heheh)

Intinya, dia suka sama aku buluku. Wow. Amazing.

3. Darah Mimisan
Waktu aku kelas 5, aku sempat suka sama seseorang yang normal. Wajahnya putih mulus, kakinya panjang, badannya proporsional, matanya sendu, pipinya tembam, lesungnya amasing banget.
Tapi sayang, dia hanya kakak kelas yang cuma bisa aku lihat dari kejauhan, cuma bisa aku dengar dari gosip teman-teman, cuma bisa aku rasakan saat aku harus menerobos barisan anak-anak kelas 6 karena aku harus buru-buru baris di depan kelas 5 yang letaknya di sebelah kelasnya karena aku tidak sempat naik tangga satu lagi yang harus menerobos barisan kelas 4.

4. Waslap
Kelas 6, saat hampir lulus, saat kakak-kakak kelas sudah pergi, aku hanya bisa seperti pungguk merindukan bulan terhadap seorang lelaki yang kusukai, padahal jelas-jelas dia satu angkatan denganku.
Dia tinggi dan atletis. Entah karena dia cakep atau karena dia baik, aku jadi menyukainya. Akupun tidak tahu sama sekali kisah-kisahnya. Yang kutahu hanya dia dan dia.
Dia, dia, dan dia.
__________________________________________________________________________________

Saat aku hendak membuka lembaran baru di SMP, yang kurasa tepat menjadi alasanku untuk mencari cinta-cinta baru adalah : patah hati.

Kembali kurasakan sakit di bawah leher -loh-, bukan, maksudnya di hati, saat aku kehilangan harapan lagi, untuk kesekian kalinya.


1. Kemoceng
Seperti biasa, pasrah. Semenjak kami berpisah di kelas 2 SD, semuanya terasa hambar. Lambat laun aku pun mulai sadar, bahwa dia adalah orang yang tak pernah bisa kugapai. Kata yang sempat kuharapkan darinya hanya benar-benar jadi harapan belaka. TEMAN BAIK yang takkan pernah jadi sahabat. Mustahil...

2. Sapu Ijuk
Waktu kelas 5, aku pindah jemputan. Jemputan ini terasa lebih hidup karena terdiri dari segala usia. TK, SD, SMP, bahkan ada yang hampir lulus SMA. 


Tapi, satu hal yang kusesalkan di jemputan ini adalah, aku tahu bahwa sebelumnya Sapu Ijuk sudah punya pacar dari kelas 5. Dan pacarnya itu dekat denganku. Dan aku harus rela menjadi figuran di kisah mereka.

Tapi TIDAK di kisahku sendiri. Aku memutuskan, daripada berandai-andai, lebih baik aku mencari cinta baru yang lebih pasti.

3. Darah Mimisan
Ternyata aku memang hanya manusia bodoh. Bukannya kepastian, aku malah menemukan cinta yang lebih tidak jelas lagi. Kakak kelas yang populer dan terkenal? Jangan harap.
Tapi, setidaknya ini lebih baik. Aku hanya harus melupakannya karena dia lulus. Tidak seperti Sapu Ijuk yang sempat membekas lalu hilang begitu saja. Dasar manusia, apa yang bisa kuharapkan dari orang-orang brengsek yang membuatku jatuh cinta, tanpa mempertanggung jawabkannya.

4. Waslap
Bukan salahnya jika aku kecewa, toh ini karena aku yang memang kuper sehingga tidak tahu berita-berita tentang siapa yang pernah disukainya.
Terlambat aku tahu, sehingga aku tidak sempat mempersiapkan hatiku untuk menerima sakit yang luar biasa.
Lagi-lagi, aku patah hati...

Dari semua kisah ini, aku tahu bahwa keahlianku cuma menyukai, berharap, kecewa, dan akhirnya patah hati.
Aku benar-benar rapuh akan cinta yang dengan mudahnya menembakkan pelurunya dan bersarang di hatiku.
Mungkin berharap memang tidak menyakitkan, tapi ada satu harapan yang kurasa mustahil.
HARAPAN AKAN CINTA.

Thanks and keep on reading, gals!

"Gua suka tuh, kalo bulunya panjang terus dilurusin."